Oleh: zendrohareflen | November 2, 2014

TUJUAN DAN MANFAAT MENULIS

1. Tujuan menulis

Adapun tujuan menulis yaitu:

a.    Menginformasikan segala sesuatu, baik itu fakta, data maupun peristiwa termasuk pendapat dan pandangan terhadap fakta, data dan peristiwa agar khalayak pembaca memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru tentang berbagai hal yang dapat maupun yang terjadi di muka bumi ini.

b.    Membujuk melalui tulisan seorang penulis mengharapkan pula pembaca dapat menentukan sikap, apakah menyetujui atau mendukung yang dikemukakannya. Penulis harus mampu membujuk dan meyakinkan pembaca dengan menggunakan gaya bahasa yang persuasif. Oleh karena itu, fungsi persuasi dari sebuah tulisan akan dapat menghasilkan apabila penulis mampu menyajikan dengan gaya bahasa yang menarik, akrab, bersahabat, dan mudah dicerna.

c.    Mendidik adalah salah satu tujuan dari komunikasi melalui tulisan. Melalui membaca hasil tulisan wawasan pengetahuan seseorang akan terus bertambah, kecerdasan terus diasah, yang pada akhirnya akan menentukan perilaku seseorang.  Orang-orang yang berpendidikan misalnya, cenderung lebih terbuka dan penuh toleransi, lebih menghargai pendapat orang lain, dan tentu saja cenderung lebih rasional.

d.    Menghibur fungsi dan tujuan menghibur dalam komunikasi, bukan monopoli media massa, radio, televisi, namun media cetak dapat pula berperan dalam menghibur khalayak pembacanya. Tulisan-tulisan atau bacaan-bacaan “ringan” yang kaya dengan anekdot, cerita dan pengalaman lucu bisa pula menjadi bacaan penglipur lara atau untuk melepaskan ketegangan setelah seharian  sibuk beraktifitas.

 

Abdurrahman dan Waluyo (2000: 223) menyatakan bahwa “tujuan menulis siswa di sekolah dasar untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas-tugas yang diberikan di sekolah dengan harapan melatih keterampilan berbahasa dengan baik”.

Menurut Syafie’ie (1988:51-52),  tujuan menulis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1) Mengubah keyakinan pembaca;

2) Menanamkan pemahaman sesuatu terhadap pembaca;

3) Merangsang proses berpikir pembaca;

4) Menyenangkan atau menghibur pembaca;

5) Memberitahu pembaca; dan

6) Memotivasi pembaca.

Hugo Harting (dalam Tarigan, 1994:24-25)  mengklasifikasikan tujuan penulisan, antara lain:

  1. Tujuan penugasan (assingnment purpose)
  2. 2.       Tujuan altruistik (altruistic purpose), tujuan persuasi (persuasive purpose)
  3. 3.      Tujuan Persuasif (Persuassive Purpose)
  4. 4.      Tujuan penerangan (informational purpose), tujuan penyataan (self-expressive purpose)
  5. Tujuan Pernyataan diri (Self expressive purpose)
  6. Tujuan kreatif (creative purpose)
  7. Tujuan pemecahan masalah (problem-solving purpose).

 

2. Manfaat menulis

Kemampuan menulis permulaan memiliki manfaat terutama pada kemampuan menulis lanjutan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar, manfaat tersebut antara lain:

  1. Memperluas dan meningkatkan pertumbuhan kosa kata.
  2. Meningkatkan kelancaran tulis menulis dan menyusun kalimat.
  3. Sebuah karangan pada hakikatnya berhubungan bahasa dan kehidupan.
  4. Kegiatan tulis menulis meningkatkan kemampuan untuk pengaturan dan pengorganisasian.
  5. Mendorong calon penulis terbiasa mengembangkan suatu gaya penulisan pribadi dan terbiasa mencari pengorganisasian yang sesuai dengan gagasannya sendiri.

Menurut Sabarti dkk, 1988:2 manfaat menulis ada delapan, diantaraya:

  1. Mengetahui kemampuan dan potensi diri serta pengetahuan kita tentang topik yang dipilihnya. Dengan mengembangkan topik itu kita terpaksa berpikir, menggali pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dibawah sadar.
  2. Dengan mengembangkan berbagai gagasan kita terpaksa bernalar, menghubung-hubungkan serta membandingkan fakta-fakta yang mungkin tidak pernah kita lakukan kalau kita tidak menulis.
  3. Lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yag ditulis. Dengan demikian, kegiatan menulis memperluas wawasan baik secara teoritis maupun mengenai fakta-fakta yang berhubungan.
  4. Menulis berarti mengorganisasi gagasan secara sistematik serta mengungkapkan secara tersurat. Dengan demikian, permasalahan yang pemula masih samar menjadi lebih jelas.
  5. Melalui tulisan kita dapat menjadi peninjau dan penilai gagasan kita secara objektif.
  6. Lebih mudah memecahkan masalah dengan menganalisisnya secara tersurat dalam konteks yang lebih konkret.
  7. Dengan menulis kita aktif berpikir sehingga kita dapat menjadi penemu sekaligus pemecah masalah, bukan sekedar penyadap informasi.
  8. Kegiatan menulis yang terencana akan membiasakan kita berpikir dan berbahasa secara tertib.

Bernard (dalam Gie 2002:21-22) mengemukakan enam manfaat kegiatan karang-mengarang, yaitu:

  1. Suatu sarana untuk pengungkapan diri (a tool for self-expression), yaitu suatu sarana untuk mengungkapkan perasaan seseorang.
  2. Suatu sarana untuk pemahaman (a tool for understanding), yaitu sewaktu mengarang seseorang merenungkan gagasannya dan menyempurnakan penangkapannya terhadap sesuatu hal sehingga akhirnya ia dapat memperoleh pemahaman yang baru atau yang lebih mendalam tentang hal yang ditulisnya itu.
  3. Suatu sarana untuk membantu mengembangkan kepuasan pribadi, kebanggaan, dan suatu perasaan harga diri (a tool to help developing personal satisfaction, pride, and feeling of self-worth), artinya rasa bangga, puas, dan harga diri dapat membangkitkan kepercayaan terhadap kemampuan sendiri untuk menciptakan karya-karya tulis lainnya.
  4. Suatu sarana untuk meningkatkan kesadaran dan penerapan terhadap lingkungan sekeliling seseorang (a tool for increasing awareness and  perception of one’s environment), maksudnya dengan sering mengarang seseorang meninggikan kesiagaan inderawinya dan mengembangkan daya serapnya pada tingkat kejasmaniahan, tingkat perasaan maupun tingkat kerohaniahan.
  5. Suatu sarana untuk keterlibatan secara bersemangat dan bukannya penerimaan yang pasrah (a tool for active involvement, not passive acceptance), artinya dengan mengarang, seseorang dapat mengemukakan gagasan, menciptakan suatu, dan secara aktif melibatkan diri dengan ciptaannya.
  6. Suatu sarana untuk mengembangkan suatu pemahaman tentang dan kemampuan menggunakan bahasa (a tool for developing an understanding of and ability to use the language), artinya kegiatan mengarang bermanfat membantu tercapainya kemampuan membaca dan mengerti apa yang ditulis.

Manfaat menulis menurut Horiston dalam Darmadi 1996:3-4, yaitu:

  1. Kegiatan menulis adalah sarana untuk menemukan sesuatu, dalam artian dapat mengangkat ide dan informasi yang ada di alam bawah sadar pemikiran kita.
  2. Kegiatan menulis dapat memunculkan ide baru.
  3. Kegiatan menulis dapat melatih kemampuan mengorganisasi dan menjernihkan berbagai konsep atau ide yang kita milki.
  4. Kegiatan menulis dapat melatih sikap objektif yang ada pada diri seseorang.
  5. Kegiatan menulis dapat membantu diri kita untuk berlatih memecahkan beberapa masalah sekaligus.
  6. Kegiatan menulis dalam sebuah bidang ilmu akan memungkinkan kita untuk menjadi aktif dan tidak hanya menjadi penerima informasi.

Hepi Andi Bastomi, MA menyebutkan ada 5 kekayaan yang akan dihasilkan oleh penulis, yaitu:

  1. Kekayaan pahala
  2. Kekayaan uang
  3. Kekayaan sahabat
  4. Kekayaan pengetahuan
  5. Kekayaan nama

Pada umumnya penulis juga akan mempunyai manfaat atas yang ditulisnya, diantaranya:

  1. Secara material

Secara material, penulis memperoleh honorium dan merupakan sebagai profesi sambilan untuk memperoleh penghasilan.

  1. Secara non material

Secara non material, dengan menulis mendapatkan kepuasan batin karena bisa mengekspresikan diri, melontarkan gagasan-gagasan serta ide-ide, mengkriti kinerja pemerintah, dan dapat mencerdaskan bangsa. Bahkan mendapatkan pahala dari Allah swt.

  1. Popularitas

Selain dari material dan non material penulis dapat terkenal namanya dimana-mana, dikota, luar kota, provinsi dan bahkan dapat mendunia.

Dalam sebuah buku karya Bernerd Percy yang berjudul The Power of Creative Writting mengungkapkan sekurang-kurangnya ada enam manfaat karang mengarang, diantaranya:

  1. Sarana pengungkapan diri
  2. Sarana untuk memahami sesuatu
  3. Sarana untuk mengembangkan kepuasan pribadi, kebanggaan, dan rasa harga diri
  4. Sarana untuk meningkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap lingkungan sekeliling
  5. Sarana untuk melibatkan diri dengan penuh semangat
  6. Sarana untuk mengembangkan pemahaman dan kemampuan mempergunakan bahasa

KESIMPULAN

Banyak para ahli yang mengungkapkan tujuan dan manfaat menulis, kami mencoba menyimpulkan dari beberapa para ahli bahwa:

  1. Tujuan menulis
    1. Untuk menginformasikan sesuatu, baik itu gagasan-gagasan maupun ide-ide.
    2. Untuk membujuk, mengajak dan merangsang para pembaca agar dapat menentukan sikap, apakah menyetujui atau mendukung yang dikemukakan penulis.
    3. Untuk mendidik, mencerdaskan dan membimbing bangsa baik intelektualnya, emosionalnya dan spiritualnya.
    4. Untuk menghibur para pembaca yang lelah setelah beraktivitas
    5. Untuk lebih meyakinkan para pembaca terhadap apa yang dimiliki sebelumnya.
    6. Untuk memecahkan sebuah masalah.
  2.  Manfaat menulis
    1. Dapat memperluas dan meningkatkan kosa kata yang belum diketahui karena banyak membaca.
    2. Dapat melancarkan tulis menulis baik kalimat, paragraf maupun wacana.
    3. Dapat mengembangkan suatu gaya penulisan sendiri.
    4. Secara material dapat memperoleh honorium sebagai profesi sampingan.
    5. Secara non material dapat memberikan kepuasan batin.
    6. Dapat popularitas dimana-mana karena sebuah tulisannya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Muchlisoh, dkk. 1993. Materi Pokok Bahasa Indonesia 3 Modul 1-9. Jakarta: Universitas Terbuka

Kartimi, Tiem. 2006. Perencanaan Menulis Karangan. Bogor: Universitas Pakuan

Bastomi, Hepi Andi. 2012. Menghidupkan Tradisi Menulis: Buletin Al-Bunyan

Romli, Asep Syamsul M. 2003. Lincah Menulis Pandai Berbicara. Bandung.           Nuansa Cendikia

Nursisto. 2000. Penuntun Mengarang. Jakarta: Adicita

https://bahasakublog.wordpress.com/2012/08/13/

Oleh: zendrohareflen | Maret 21, 2014

Ingat 9 April 2014 Jangan Salah Pilih

Pemilihan tinggal beberapa hari lagi, kondisi lapangan saat ini tidak sesuai dengan kenyataan itu semua karna janji janji kebohongan yang terlontarkan dari mulut-mulut yang punya jaji. Janji Palsu, moga semuanya sadar dengan janji. Banyak kenyataan yang kosong. Jadi untuk 9 April 2014, jangan sampai salah pilih lagi. buat apa memilih yang sudah berjanji tapi nyatanya janji itu kosong. Yang lebih baik pilih yang benar-benar ingin membangun, membantu, royal terhadap kemajuan daerah. 9 april menentukan nasip suatu daerah.

partai-peserta-pemilu-2014

Oleh: zendrohareflen | Desember 25, 2013

metode-metode dalam psikologi perkembangan dan contoh kasusnya

  1. Metode pengamatan (ouservasi )

Metode ini menyelidiki tingkah laku anak misalnya,bagaimana ia bermainkita harus mengamatinya anak-anak itu dari kejahatan tampak meraka tahu kita dapat mencatat tingkah yang kelihatan.

            Pengamatan dapat ditunjukkan kepada anaksecara terus menerus ataudi tunjukkan kepada beberapa anak secara bergantian.

*Menurut Cora dan William stern,penelitian itu harus tepat waktubekerjanya secara kronologis,kemudian menyikaan daftar yang menyuat inti.Kata,nomor, halaman disusun teatur menurut abjad selain itu masih ada beberapa pertunjukan yang diperlukan dalam pelaksanan observasi ini diantaranya sebagai berikut:

a.  Pada tepi halaman di cetak tunggal beberapa kejadian itu inti kata,keterangan umur dan  sebagainya.

b . Anak tidak mengetahui bahwa ia sedang diamati.

C. Hasil pengamatan segera di catat,bila waktu singkat dan tidak memungkitkan untuk    mencatatat selurunya kita harus mampu membedakan aspek mana yang perlu.

Contohnya :  Yang ia lakukan hanyalah mencatat tingkahlaku maam apa saja yang ditunjukan (tingkah  laku )oleh orang-orang yang sedang diamati.

     2. Metode eksprimen dan tes

     Pada perinsipnya,metode eksperimen merupakan serangkaian percobaan yang dilakukan eksperimentar di dalam laboratorium atau ruangan tertentu.Teknik pelaksananya dengan menyesuaikan data yang akan diangkat.seperti,data pendngaran siswa,pengelihat siswa dan gerak mata siswa ketika sedang membaca.Selain itu eksperimen dapat pula digunakan untuk mengukurkecepatan bereaksi peserta didikterhadap stimulus tertentu dalam proses belajar.Metode eksperimen lebih utama digunakan dalam risetnya,hal ini karena,dan informasi yang dihimpun lebih bersifat definitik (pasti ) dan lebih ilmiah.

     Penggunan metode eksperimen terhadap anak-anak hanya terbatas pada penyelidikan yang diamati dengan alat indra karena gejala-gejala jiwa yang bersifat rohani masih sangat samar-samar.

     Sehingga masih hanya bagian-bagian yang dapat disaksikan dengan indra saja yang dapat diketahui. Penggunaan tes  dua rimbuan bangsa perancis telah memperkenalkan skala intelikgensi untuk pertama kali pada tahun 1905 dan lima pertanyaan untuk tingkat usia tertentu.

Contohnya :  Orang dimakukan dalam ruang simulasi dimana peneliti bisa mengatur kekuat cahaya atau gelombang suara yang akan diberikan kepada orang percobaan.

     3 .Metode klinis

     Penelitian yang kusus ditunjukkan kepada anak ialah dengan cara pengamati,menyerak,bercakap-cakap dan tanggung jawab,pengunaan metode klinis merupakan gabungan eksperimen dan observasi seorang ilmuan di bangsa perancis menggunakan metode-metode klinis untuk meneliticara berpikir dan berkembang bahasa anak-anak.

Contohnya  :  Seorang dokter gila mengobati pasien dengan salah resap obat.

4. Metode pengumpulan data

     Bentuk angket beberapa dapat pertanyaan yang di susun secara sistematis untuk mendapatkan data-data dan inpormasi dari objek yang di pelajari dan itu disampaikan kepada anak-anak (esponden ) untuk memperoleh data dan inpormasi kemudian dilakukan pengolahan dan analisa terhadap data-data dan informasi yang terkumpul.Usaha penelitian pada anak-anak dengan menggunakan angket  kadang-kadang mengalami hambatan karena anak itu sendiri belum menyadari.

Contohnya : Ketika membuat proposal skripsi dan tesis mahasiswa/mahasiswi.

     5 . Metode studi kasus ( case study )

     Metodestudi kasus atau case study merupakan metod penelitian yang digunakan untuk memperoleh sebuah gambaran terperinci  mengenai aspek-aspek psikologis seorang siswa atau sekompok siswa tertentu.

Contohnya : Sekelompok siswa sedang melakukan penelitian.

     6 . Metode observasi naturasik

     Metode observasi naturasik merupakan jenis observasi yang dilakukan secara ilmiah.Dalam hal ini penelitian berada di luar objek yang perlu diperhatikan oleh eksperimenter adala sikap subjektivitas dan dari subjek yang diteliti,rancangan eksperimen biasanya dibuat sedemikian rupa,sehinggga seluruh unsur penelitian termasuk penggunan laboratorium dan subjek yang akan benar-benar diteliti benar-benar memenuhi syarat penelitian eksperimental.Dalam metode eksperimen,objek yang akan diteliti dibagi kedalam dua kelompok,yaitu :  1. Kelompok percobaan (eksprimental  ) grup

                                                                     2. Kelompok perbanding (contor group )

Contohnya :  Yang ia lakukan hanyalah mencatat.

7. Metode kuesioner

     Metode ini,lebih banyak menggunakan sample yang bias dijangkau disamping unit cost setiap responen lebih mudah.Contoh data yamg dapat dikumpulkan atau dihimpun dengan metode ini adalah :  1. Karakteristik.

                                 2. Latar belakang siswa.

                                 3. Perhatian minat  dan bakat siswa pada mata pelajaran tertentu.

                                 4. Factor-factor pendorong dan penghambat siswa dalam mengikuti mata pelajaran tertentu.

                                 5. Aplikasi mata pelajar tertentu dalam kehidupan sehari-hari.

                                 6. Pengaruh aplikasi mata pelajaran tertentu dalam kehidupan sehari-  hari.

     Contohnya  :   Perhatian minat dan bakat siswa pada mata pelajar tertentu.

By. Tugas Vivi Oktavia Syari

Oleh: zendrohareflen | Desember 25, 2013

Pengertian Psikologi Umum secara Etimologi dan Terminologi

   Pengertian psikologi umum  berasal dari perkaatan YUNANI”psyche” yang artinya jiwa,dan “logis “yang artinya ilmu pengetahuan jadi secara:

*Etimologi(menurut arti kata)psikologi artinya ilmu mempelajari tentang jiwa,baik mengenai  macam-macam gejalahnya,proses maupun latar belakangnya.Dengan singkat disebut ilmu jiwa.Berbicara tentang jiwa,terlebih dahulu kita harus dapat membedakan antaranya dengan jiwa. (Reperensi DRS.H.abu ahmadi).

*Secara Termologis yaitu menurut istilahpengetahuan nya psikologis adalah ilmu yang mempelajari tentang gejalah hal yang berhubungan dengan jiwa,hakikatnya,asal usul proses bekerjanya dan akibat-akibat yang ditimbulkan.

(Reprensi,Prof aftur T.jersild dalam bukunya chil pcyhology.1662).

Oleh: zendrohareflen | November 29, 2013

SEMANGKUK BAKSO

Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.

“Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan,” gerutunya dalam hati. “Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!”

Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.

Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.

“Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam,” sapa si tukang bakso.

“Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.

“Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak.”

Putri pun segera duduk di dalam.

Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, “Lho, kenapa menangis, neng?” tanya si abang.

“Saya jadi ingat ibu saya, nang. Sebenarnya… hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang.”

“Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho.”

Putri seketika tersadar, “Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?”

Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,

“Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu.”

“Ibu, maafkan Putri, Bu,” Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.

=====================================================

Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu, kapan pun.

Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.

Sumber : andriewongso.com

Oleh: zendrohareflen | November 29, 2013

KESEIMBANGAN HIDUP

 

Dikisahkan, suatu hari ada seorang anak muda yang tengah menanjak karirnya tapi merasa hidupnya tidak bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa keluarga tidak lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami. Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan saat merenung bagi dirinya sendiri.

Hingga suatu hari, karena ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah seorang petinggi perusahaan di rumahnya. Setibanya di sana, dia sempat terpukau saat melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.

“Hai anak muda. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus Bapak selesaikan,” seru tuan rumah. Bukannya masuk, si pemuda menghampiri dan bertanya, “Maaf, Pak. Bagaimana Bapak bisa merawat taman yang begitu indah sambil tetap bekerja dan bisa membuat keputusan-keputusan hebat di perusahaan kita?”

Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak menjawab ramah, “Anak muda, mau lihat keindahan yang lain? Kamu boleh kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil berkeliling, bawalah mangkok susu ini. Jangan tumpah ya. Setelah itu kembalilah kemari”.

Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikutinya perintah itu. Tak lama kemudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tidak tumpah sedikit pun. Si bapak bertanya, “Anak muda. Kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku? Atau bertemu dengan burung kesayanganku?”

Sambil tersipu malu, si pemuda menjawab, “Maaf Pak, saya belum melihat apa pun karena konsentrasi saya pada mangkok susu ini. Baiklah, saya akan pergi melihatnya.”

Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan kagum dia berkata, “Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman.” tanpa diminta, dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Si Bapak mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di dalam mangkok yang hampir habis.
Menyadari lirikan si bapak ke arah mangkoknya, si pemuda berkata, “Maaf Pak, keasyikan menikmati indahnya rumah Bapak, susunya tumpah semua”.

“Hahaha! Anak muda. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di mangkok itu utuh, maka rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika rumahku terlihat indah di matamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana membagi dan memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti kehidupan kita akan harmonis”.

Seketika itu si pemuda tersenyum gembira, “Terima kasih, Pak. Tidak diduga saya telah menemukan jawaban kegelisahan saya selama ini. Sekarang saya tahu, kenapa orang-orang menjuluki Bapak sebagai orang yang bijak dan baik hati”.

==============================================

Dapat membuat kehidupan seimbang tentu akan mendatangkan keharmonisan dan kebahagiaan. Namun bisa membuat kehidupan menjadi seimbang, itulah yang tidak mudah.

Saya kira, kita membutuhkan proses pematangan pikiran dan mental. Butuh pengorbanan, perjuangan, dan pembelajaran terus menerus. Dan yang pasti, untuk menjaga supaya tetap bisa hidup seimbang dan harmonis, ini bukan urusan 1 atau 2 bulan, bukan masalah 5 tahun atau 10 tahun, tetapi kita butuh selama hidup. Selamat berjuang!

Sumber : andriewongso.com

Oleh: zendrohareflen | November 29, 2013

RAHASIA SEBUAH KESABARAN

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [Al Baqarah/2:155-157]

Firman Allah Ta’ala :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan”.

Dalam menafsirkan ayat di atas, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, (pada ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menguji dan menempa para hamba-Nya. Terkadang (mengujinya) dengan kebahagiaan, dan suatu waktu dengan kesulitan, seperti rasa takut dan kelaparan. [2]

Senada dengan keterangan sebelumnya, Syaikh Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menyatakan: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan, bahwa Dia pasti akan menguji para hambaNya dengan bencana-bencana. Agar menjadi jelas siapa (di antara) hamba itu yang sejati dan pendusta, yang sabar dan yang berkeluh-kesah. Ini adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas para hamba-Nya. Seandainya kebahagiaan selalu menyertai kaum Mukminin, tidak ada bencana (yang menimpa mereka), niscaya terjadi percampuran, tidak ada pemisah (dengan orang-orang tidak baik). Kejadian ini merupakan kerusakan tersendiri. Sifat hikmah Allah Subhanahu wa Ta’ala (ini) menggariskan adanya pemisah antara orang-orang baik dengan orang-orang yang jelek. Inilah fungsi musibah”.[2]

Makna dari “dengan sedikit ketakutan dan kelaparan,” yaitu takut kepada para musuh dan kelaparan yang ringan. Sebab bila diuji dengan rasa takut yang memuncak atau kelaparan yang sangat, niscaya mereka akan binasa. Karena, hakikat ujian adalah untuk menyeleksi, bukan membinasakan. Sedangkan musibah berupa “kekurangan harta,” mencakup berkurangnya harta akibat bencana, hanyut, hilang, atau dirampas oleh sekelompok orang zhalim, ataupun dirampok.

Adapun bencana yang menimpa “jiwa,” yaitu berupa kematian orang-orang yang dicintai. Misalnya, seperti anak-anak, kaum kerabat dan teman-teman. Atau terjangkitinya tubuh seseorang, atau orang yang ia cintai oleh terjangkiti berbagai penyakit.

Berkaitan dengan kekurangan pada “buah-buahan,” lantaran bergulirnya musim dingin, salju, terjadinya kebakaran, gangguan dari belalang dan hewan lainnya, sehingga kebun-kebun dan ladang pertanian tidak menghasilkan sebagaimana biasanya.[3]

Semua ini dan bencana lain yang serupa, merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para hamba-Nya. Barangsiapa bersabar, niscaya akan memperoleh pahala. Dan orang yang putus asa, akan ditimpa hukuman-Nya. Karena itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri ayat ini dengan berfirman:

“(Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar)”.[4]

Maksudnya, berilah kabar gembira atas kesabaran mereka. Pahala kesabaran tiada terukur. Akan tetapi, pahala ini tidak dapat dicapai, kecuali dengan kesabaran pada saat pertama kali mengalami kegoncangan (karena tertimpa musibah).[5]

Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kriteria orang-orang yang bersabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“(Yaitu), orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.

Kata-kata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” inilah, dikenal dengan istilah istirja’, yang keluar dari lisan-lisan mereka saat didera musibah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”Mereka menghibur diri dengan mengucapkan perkataan ini saat dilanda (bencana) dan meyakini, bahwa mereka milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) berhak melakukan apa saja terhadap ciptaan-Nya. Mereka juga mengetahui, tidak ada sesuatu (amalan baik) yang hilang di hadapan-Nya pada hari Kiamat. Musibah-musibah itu mendorong mereka mengakui keberadaanya sebagai ciptaan milik Allah, akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak.”[6]

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kata-kata itu sebagai sarana untuk mencari perlindungan bagi orang-orang yang dilanda musibah dan penjagaan bagi orang-orang yang sedang diuji. Karena kata-kata itu mengandung makna yang penuh berkah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala [inna lillahi] ini mengandung nilai tauhid dan pengakuan penghambahaan diri, dan di bawah kepemilikan Allah.

Sedangkan firmanNya [wainna ilaiyhi rajiu’un] mengandung makna pengakuan terhadap kehancuran yang akan menimpa manusia, dibangkitkan dari kubur, serta keyakinan bahwa segala urusan kembali kepada Allah.[7]

“(Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya)”.

Betapa besar balasan kebaikan yang diperoleh orang-orang yang mampu bersabar, menahan diri dalam menghadapi musibah dari Allah, Dzat yang mengatur alam semesta ini.

Kata Imam al Qurthubi rahimahullah : “Ini merupakan rangkaian kenikmatan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi orang-orang yang bersabar dan mengucapkan kalimat istirja’. Yang dimaksud “shalawat” dari Allah bagi hamba-Nya, yaitu ampunan, rahmat dan keberkahan, serta kemuliaan yang diberikan kepadanya di dunia dan di akhirat. Sedangkan kata “rahmat” diulang lagi, untuk menunjukkan penekanan dan penegasan makna yang sudah disampaikan”. [8]

Imam ath-Thabari mengartikannya dengan makna maghfirah (ampunan)[9]. Sedangkan menurut Ibnu Katsir rahimahullah maknanya ialah, mereka mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.[10]

“(dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk)”.

Disamping karunia yang telah disebutkan, mereka juga termasuk golongan orang-orang muhtadin (yang menerima hidayah), berada di atas kebenaran. Mengatakan ucapan yang diridhai Allah, mengerjalan amalan yang akan membuat mereka menggapai pahala besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala [11]. Dalam konteks ini, yaitu keberhasilan mereka bersabar karena Allah.[12]

Ayat ini menunjukkan pula balasan bagi orang yang tidak mampu bersabar. Yaitu akan mendapat balasan dalam bentuk celaan, hukuman dari Allah, kesesatan dan kerugian.[13]

Ini hanya cerita bukan karangan belaka, dan ini fakta :

Ingatkah kalian ketika anda di terima di sebuah universitas, yang pastinya sangat senang sekali, dan gembira. Sungguh anda adalah orang yang luar biasa, bahkan keluarga anda bangga dengan diri anda.
Anda merasa hebat dengan apa yang ada lakukan hingga menjadi mahasiswa yang siap bersaing untuk mendapatk IP yang lebih tinggi, target anda pasti setiap semester harus mendapat IP 4.00. Kebanggaan itu pastinya selalu menjadi dambaan, bahkan orang yang mendengarkannya pasti akan bilang. Wow, anda hebat sekali…!  Tersenyum bahagia itu yang akan anda lakukan.

Setiap orang pasti mempunyai impian, setiap orang pasti mempunyai target, setiap orang pasti mempunyai harapan, setiap orang pasti mempunyai cita-cita, dan setiap orang pastinya akan melakukan cara apapun agar semuanya bisa berhasil.

Hari itu semua Mahasiswa dikumpulkan digedung AULA, inilah calon-calon pendidik harapan bangsa ini. ingat kalian adalah orang yang terpilih dari sekian ribu orang yang mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Welcom…! kalian adalah bagian dari kami.

Hari itu saya termasuk bagian dari salah satu dari mereka yang berada di AULA.

Jelasnya saya ketemu dengan teman lama, dan mendapatkan teman baru. hari itu juga saya melihat bahwa ternyata selama ini perjalanan hidup saya amatlah sejengkal daripada yang lain. tapi saya berbangga karna yang dibawah sejengkal masi ada, dan hal itulah yang membuat saya bersyukur.  Hari itu juga saya bisa kenal dengan mereka yang sangat-sangat hebat, bahkan lebih dari saya. Repot ternyata menjalankan aktifitas menjadi mahasiswa, kenapa harus repot begini?. Semakin hari semakin repot, kalau dijalani ternyata semua yang repot hilang ditelan bumi, dan itu akan muncul lagi. Ingat kalau tidak ingin repot, hiduplah sendiri. Buat negara sendiri, kemungkianan hidup pasti akan tenang dan tidak akan repot. hahaha……!

Oleh: zendrohareflen | Agustus 11, 2013

BUDAYA TANAH SERAWAI KABUPATEN SELUMA

BUDAYA TANA SERAWAI

By. TITI SUMARNI

GAMBARAN UMUM DAERAH ( SUKU SERAWAI ) KABUPATEN SELUMA

A. LETAK GEOGRAFIS

Kabupaten Seluma berdiri berdasarkan undang-undang nomor 3 tahun 2003 tentang pementukan Kabupaten Muko-Muko, Kabupaten Seluma, dan Kabupaten Kaur di Provinsi Bengkulu, maka resmilah Seluma menjadi Kabupaten yang ditandai dengan dilantiknya pejabat Bupati Seluma berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri RI Nomor : 131.28-259 tahun 2003 tanggal 22 Mei 2003 tentang pengangkatan pejabat bupati Seluma Provinsi bengkulu oleh Menteri Dalam Negeri di halaman kantor Gubernur bengkulu pada tanggal 23 Mei 2003. Selain itu Kabupaten Seluma dikenal dengan sebutan Serawai.

Asal dari kata serawai ada 2 (dua) pendapat yaitu; (1) Serawai maksudnya cabang dua buah sungai yaitu sungai Musi dan sungai Seluma yang dibatasi oleh suatu bukit yaitu bukit capang. (2) Serawai asal kata dari seram yang artinya celaka (celako) ini dihubungkankan dengan anak raja dari hulu, karena menderita penyakit menular lalu dibuang (dihanyutkan) ke sungai dan terdampar di manna. Anak raja inilah yang mendirikan sebuah kerajaan. Kerajaan tersebutlah yang dikenal dengan Kerajaan Serawai.

Kerajaan Serawai terpisah dari kerajaan Bengkulu. Kerajaan ini ditemui diantara daerah sungai Jenggalu sampai ke muara Bengkenan, kerajaan ini akhirnya terpecah-pecah menjadi kerajaan kecil yang disebut margo (marga). Mereka bersatu atas dasar satu kesatuan, satu keturunan dan satu rumpun bahasa.

Sedangkan dilihat dari struktur masyarakat maka yang mendiami daerah Seluma terdiri dari; Suku Serawai dan Suku Pendatang (Suku Jawa, Suku Minang, Suku Bali , Suku Batak, dll) .

Secara geografis Kabupaten Seluma ini terletak di pantai barat pulau Sumatera dengan luas 240.0004.4 Ha. Ditinjau secara astronomis, maka letak Kabupaten Seluma berada pada 30 58’ 22” LS – 40 21’ 37” LS dan 10237’ 25” BT – 1020 59’ 25” BT.

Wilayah Kabupaten Seluma berada di pantai barat Pulau Sumatera, membujur di sepanjang bukit barisan yang secara administratif berbatasan dengan :

  • Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Hindia
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Kepahyang dan Kabupaten Lahat Propinsi Sumatera Selatan
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Utara
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Selatan

Tabel I

Jumlah Kecamatan di Kabupaten Seluma Tahun 2006

No Nama Kecamatan Jumlah Desa Jumlah Kelurahan Ibukota Kecamatan
12

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

SukarajaAir Periukan

Lubuk Sandi

Seluma Barat

Seluma Timur

Seluma Selatan

Seluma Utara

Seluma Kota

Talo

Ulu Talo

Ilir Talo

Talo Kecil

Semidang Alas

Semidang Alas Maras

1712

12

8

8

11

8

7

14

11

12

9

20

22

11

1

Bukit PeninjauanDermayu

Tumbu’an

Talang Tinggi

Selebar

Rimbo Kedui

Puguk

Tais

Masmambang

Air Keruh

Padang Cekur

Suka Merindu

Pajar Bulan

Kembang Mumpo

JUMLAH 171 3

Topografi Kabupaten Seluma pada umumnya terdiri dari dataran rendah sampai menengah, rawa, aliran sungai dan pebukitan dengan ketinggian 100 – 1.500 m dari permukaan laut. Jenis tanah umumnya latosal, rogosal alluvial, asosiasi podsolika merah kuning dan organosol.

B. SISTEM EKONOMI/MATA PENCARIAN

Daerah Kabupaten Seluma, pada bagian barat terdapat dataran rendah yang merupakan wilayah pertanian suku Serawai, di bagian timur daerah Serawai terdapat bukit-bukit yang merupakan lereng dari bukit barisan yang memanjang dari utara ke selatan, daerah ini merupakan daerah perkebunan yang subur.

Di samping daerah perbukitan sebagai lahan pertanian masyarakat, daerah pesisir pantai juga memiliki areal persawahan dan sebagian penduduknya mempunyai mata pencarian menangkap ikan. Sedangkan sebagian masyarakat berusah dalam bidang perdagangan, buruh, perternakan, pertukangan dan sebagian kecil menjadi pegawai negeri dan TNI.

C. SISTEM ADAT ISTIADAT

Sistem Adat Istiadat masyarakat suku Serawai Kabupaten Seluma antara lain :

a. Sistem Kekerabatan

Keluarga Batih, yaitu keluarga yang terdiri dari anak-anak yang belum berkeluarga yang dipimpin oleh seorang ayah dan ibu. Dalam hal ini semua anak tunduk dan patuh kepada ayah, ibunya dan dalam pergaulan sehari-hari anak-anak tidak akan memanggil nama yang lebih tua darinya, tapi dia akan memanggil dengan kata ganti nama yang disebut dengan tuturan. Pembentukan keluarga batih ini diawali dengan upacara perkawinan. Tempat tinggal pasangan yang baru nikah ini disesuaikan dengan perjanjian sebelum upacara perkawinan. Menurut asen bekulo atau perasaan adat sejati ketentuan tempat tinggal itu ada tiga macam yaitu:

Asen beleket, artinya sang isteri ikut bertempat tinggal di lingkungan keluarga besar pihak suami (patrilokal). Pergi beleket berarti nyep (hilang) ia tidak berhak lagi memperoleh pembagian harta warisan orang tuanya. Jenis yang kedua yaitu, Asen Semendo artinya setelah kawin sang suami pindah berdiam turut ke lingkungan keluarga isterinya (matrilokal). Tetapi kekuasaan rumah tangga tetap pada suami. Berbeda dengan beleket bahwa laki-laki di sini masih berhak mendapat pembagisn warisan orang tuanya. Jenis yang ketiga yaitu, Semendo Rajo-rajo. Ini terjadi biasanya kalau kedudukan orang tua kedua belah pihak sama kuat maka soal tempat tinggal ini bebas menurut pilihan pasangan keluarga baru itu (biloka).

Sejalan dengan tiga macam perjanjian tersebut maka garis keturunannya tiga macam pula. Yang pertama Patrilinial (asen semendo rajo-rajo). Kesimpulan ini diambil berdasarkan analisis keterangan ahli adat dan tampak pada kenyataan bahwa bagi perempuan beleket sebenarnya tidak diperkenankan kembali ke tempat orang tuanya lagi. Ia sudah diberi dengan uang jemputan cukup besar.

Pada umumnya fungsi sosial ekonomi, pendidikan dan agama menjadi tanggung jawab keluarga batih. Pembagian kerja dalam segala aspek kehidupan pada prinsipnya ada, meskipun di dalam prakteknya sering dikerjakan secara gotong royong antara ayah ibu dan anak-anaknya.

Tanggung jawab orang tua di bidang materil dan biaya adalah selama anak-anaknya belum kawin atau belum berumah tangga. Apabila seorang anak telah berumah tangga, ia harus turun dari rumah untuk mencari tempat kediaman di rumah lain, kecuali bagi anak tunggal dan disayanginya. Sementara mendapatkan rumah kediaman baru, kedua suami isteri tersebut, dapat tinggal bersama-sama atau di rumah mertua (ayah dan Isteri). Apabila kedua orang yang memimpin keluarga itu sudah tua, maka ia dapat menghibakan hartanya (tanah, rumah, sawah)kepada anak-anaknya. Tentang jumlah atau banyaknya pembagian yang didapat ditentukan oleh orang tua itu sendiri.

Keluarga luas. Yang dimaksud dengan keluarga luas adalah keluarga besar, Tobokaben, tumbang. Keluarga besar adalah tingkat tingkat lebih atau dari duluhnyakecil atau keluarga batih yang berpusar pada satu nenek moyang. Termasuk sebagai anggota keluarga besar adalah : Poyang, nenek (mbah), ayah, anak, cucu dan cicitnya, termasuk pula menantu, ipar sampai tingkat bawah yang sama. Dengan kata atau istilah lain disebut juga sanak atau famili.

Semua anggota keluarga ini tidak dibenarkan untuk saling kawin mengawini. Di dalam kehidupan sehari-hari terlihatlah cara bergaul mereka yang sangat akrab, karena di antara mereka masih ada hubungan dara, pada masyarakat suku Serawai kerabat yang disebut Jughai dan jengku dapat dimasukkan dalam pengertian keluarga luas.

Jughai adalah semua anak cucu dan cicit dari poyang atau moyantg. Lingkungan Jughai lebih besar dari lingkungan keluarga luas. Semua keturunan puyang sampai kepada cicit-cicitnya adalah anggota Jughai. Dalam lingkungan Jughai dapat terjadi perkawinan, dengan catatan harus membayar denda adat berupa memotong seekor kambing pada waktu presmian perkawinan.

Jengku adalah sekelompok masyarakat yang asalnya satu mulo jadi atau satu nenek moyang. Nenek moyang ini dalam bahasa Serawai disebut kepuyangan. Di dalam lingkungan satu kepuyangan, boleh saja terjadi perkawinan dengan syarat harus membayar denda adat seperti yang telah dijelaskan pada Jughai di atas.

b. Sopan Santun Pergaulan

Dalam pergaulan sehari-hari masyarakat suku Serawai tidak terlepas dari sopan santun dan tata krama yang mengatur mereka untuk dapat bergaul hingga terciptanya keharmonisan dalam bergaul. Orang yang lebih muda umurnya harus menghormati yang lebih tua dan sebaliknya orang tua umurnya menyayangi yang lebih muda. Akhirnya terjadilah suatu kekerabataan di antara mereka di dalam kelompok tertentu.

Anak harus senantiasa menghormati orang tuanya dan mematuhi semua perintahnya. Di dalam pergaulan sehari-har, anak tidak dibenarkan memanggil nama orang tuanya, dia akan memanggil ayahnya dengan sebutan Bak atau Bapak dan dia akan memanggil ibunya dengan sebutan Mak Nduak. Adik harus menghormati kakaknya dan sebaliknya kakaknya akan menyayangi adiknya, antara saudara perempuan dan saudara laki-laki akan lebih saling menghormati, yang istilahnya adalah saling menghormati kelawai muanai.

Kelawai adalah saudara perempuan dari anak laki-laki, dan muanai adalah saudara laki-lakai dari anak perempuan. Kalau anak laki-laki sama laki-laki atau perempuan sama perempuan di sebut dingsanak.

Dalam pergaulan sehari-hari, adik akan memanggil kakak laki-laki dengan panggilan Dang dan kakak perempuan dipanggil Wah/Wo. Panggilan untuk kakak-kakak yang lain Cik, Ingah/Ngah.

Anak dalam mengahdapi saudarah ayah atau ibu, harus memakai sopan santun yang tidak berbeda terhadap ayah dan ibunya sendiri, walaupun saudara ayah atau saudara ibunya lebih kecil umurnya. Adapun panggilan anak kepada saudara ayah atau ibu adalah sebagai berikut: Endah adalah panggilan kepada adik dari ayah atau ibu yang perempuan, sedangkan untuk yang laki-laki di panggil dengan sebutan Wan, sedangkan Bakdang adalah panggilan anak kepada kakak laki-laki ayah atau ibu yang tertua, sedangkan untuk yang perempuan dipanggil dengan sebutan Makdang.

Turun-temurun di atas, senantiasa dipakai di dalam pergaulan sehari-hari. Adalah sangat tercela sekali di dalam masyarakat, bila mana anak atau siapapun yang tidak menggunakan tutur yang semestinya.

c. Adat dan Upacara Sebelum Perkawinan

Sebelum menginjak pada masa perkawinan maka secara adat haruslah terlebih dahuluditempuh masa bertunangan. Sebelum masa bertunangan maka diadakan memadu rasan. Apabila kedua belah pihak, baik pihak perempuan dan keluarganya menyetujui perkawinan kedua putra-putrinya maka diadakanlah upacara yang disebut memadu rasan pihak laki-laki mendatangi dan pihak perempuan menanti. Memadu rasan artinya pihak laki-laki datang ke rumah perempuan menanyakan gadis atas suka sama suka di muka saksi. Biasanya orang suruhan datang dari pihak laki-laki yaitu seorang perempuan yang sudah berumur dan saudara ayah. Apabila pihak keluarga laki-laki yang akan meminang dengan pihak perempuan yang akan dipinang setuju akan jumlah uang atau benda antaran maka kedua pelah pihak memberitahukan kepada raja dan penghulu, yang secara resmi akan melaksanakan pengantaran uang atau mengantar uang. Yang dimaksud dengan raja ialah kepala-kepala adat. Penghulu ialah kepala-kepala agama, yakni imam, khatib, bilal, dan garim.

Setelah sampai waktunya yang ditentukan, maka datanglah raja, penghulu berserta rombongan yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dewasa dari pihak keluarga laki-laki ke rumah orang tuanya atau keluarga perempuan itu. Maksud kedatangan rombangan ini, disertai dengan bunyi-bunyian tetabuhan untuk menyerahkan atau mengantarkan uang. Waktu mengantar uang ini kita akan mengenal adat sirih. Adat sirih ini adalah suatu simbol sistem kerja yang sangat beradat. Kedatangan raja dan penghulu (rombongan) pun disambut pula dengan adat. Adapun pelaksanaan aturan mengantar dan menerima belanja sebagai berikut : Apabila siri puan yang datang, maka siri gadis biasanya ditandai dengan sebuah kipas yang terikat di puncak jambangan bunga. Kalau gadis ini keturunan bangsawan (anak kepala marga) maka disertai pula dengan besar-kecilnya sirih ayang datang dan yang menanti ditetapkan berdasarkan persetujuan bersama. Sirih dan lenguai ditaruh di atas lampahan diberi wangi-wangian, bunga rampai, bunga kemantin dan disertai dengan keris terapang. Jika ia masih berdara bangsawan dilengkapi dengan payung panji.

Permulaan kata dimulai dengan upacara oleh raja atau penghulu akan maksud kedatangannya yakni sesuai dengan janji sesudah dipadu, rasan sudah diterima seminggu atau dua minggu yang lalu. Kemudian dari pihak perempuan akan menjawab tentang kebenarannya.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pengukuhan oleh raja dan penghulu dengan menyerahkan sejumlah uang antaran kontan berikut benda antaran yang dijanjikan, dalam sebuah kotak selepa yang berbungkus saputangan bersulam dan dinyatakan pula bahwa sejak saat itu antara pemuda A bin si anu dan gadis D binti si anu duduk bertunangan. Kadang-kadang bdi samping uang atau benda antaran disertai pula dengan uang pemberian yang sifatnya uang pemberian tidak dikenakan potongan uang adat untuk raja dan penghulu. Sebagai balasan dari pihak perempuan diberikan rokok tujuh batang (seikat) tanda setuju, sirih lima subang dan bunga rampai yang dibagi-bagikan kepada bujang yang hadir dalam mengantar uang itu diterangkan pula tentang; waktu dan tempat perkawinan. Gagal perkawinan atau mukir dari laki-laki apabila lelaki itu menyatakan tidak hendak lagi kepada wanita ituatau laki-laki itu kawin dengan perempuan lain, atau rujuk dengan jandanya atau lenyap dari negeri itu sampai habis masa bertunangan, dengan tidak memberitahukan sebab-sebabnya.

Bila dari pihak laki-laki atau pun dari pihak perempuan yang mungkir atau mendapat penyakit ataupun mati, maka kalau pihak laki-laki yang mungkir maka uang yang sudah diantarkan itu hilang, kalau pihak perempuan yang mungkir maka uang yang sudah diantarkan/ uang antaran itu harus dikembalikan dua kali lipat. Kalau perempuan mendapat penyakit yang dapat sembuh maka uang antaran dikembalikan setengahnya. Kalau laki-laki mati dalam tiga hari bertunangan maka uang antaran dikembalikan seluruhnya. Kalau perempuan mati dalam bertunangan maka uang antaran dikembalikan setengahnya saja.

Yang dimaksud dengan bimbang, yaitu suatu upacara perkawinan adat pada upacara perkawinan dalam upacara perkawinan dalam masyarakat Bengkulu. Segala kegiatan dalam rangka upacara peresmian perkawinan hendaklah ditetapkan berdasarkan musyawarah terutama oleh kedua belah pihak keluarga mempelai dan disetujui oleh raja dan penghulu. Perlunya persetujuan kedua belah pihak keluarga mempelai, agar lebih mudah mengatur acara peresmian dan setiap kegiatan yang dilakukan baik di rumah mempelai perempuan ataupun di rumah mempelai laki-laki akan saling tumburan.

Sebelum menjelang perayaan perkawinan di kedua belah pihak di rumah mengangkat pekerjaan dan sudah mengalami kesibukan, menghadapi bimbang perkawinan. Aneka ragam kesibukan yang dimaksud adalah: Mengirimkan utusan ke rumah calon mempelai laki-laki atau sebaliknya untuk menyampaikan rencana kerja perayaan perkawinan guna mendapatkan penyelesaikan acara persetujuan bersama. Kemudian menemui raja dan penghulu dan menyampaikan maksud kedatangannya serta rencana kerja perayaan perkawinan, guna selanjutnya, mendapatkan ijin mengangkat pekerjaan serta peralatan Bimbang sebagai adat yang berlaku. Setelah itu dilakukan perasan yang sama artinya dengan mufakat akan melaksanakan rencana kerja yang sudah dipadu itu. Ada dua macam berasan yang kita kenal: Pertama, berasan adik sanak, di sini hadirlah famili-famili yang terdekat. Mereka berembuk dan akhirnya semufakat akan mendukung perayaan perkawinan sesuai dengan rencana kerja dan acara-acara yang ditetapkan.

d. Sisitem Kesenian

Sepanjang sejarah, yaitu dari zaman dahulu hingga zaman sekarang, suku Serawai mempunyai suatu kesenian tradisional yang tersendiri dan tetap utuh walaupun dipengaruhi oleh arus zaman serba modern. Kesenian purbakala tersebut tetap disenangi oleh suku Serawai, mereka memelihara kesenian leluhurnya supaya tetap utuh.

Kalau mereka sudah tua, mereka sudah merasa wajib untuk mengajarkan kesenian itu kepada generasi penerus, yang maksudnya adalah, supaya peninggalan yang berupa kesenian itu jarang sampai hilang. Walaupun beberapa orang yang telah terhanyut oleh aliran yang serba modern dan mengatakan bahwa kesenian itu sudah terlalu kuno, namun menurut jiwa warga suku Serawai, yang betul-betul menghayati nil;ai adat-istiadatnya, maka dia merasa bahwa keseniannya itu sangat tinggi nilai seninya. Tentu saja mereka beranggapan, bahwa tidak ada seni yang mengantikan seni yang telah mendarahdaging.

Menurut beberapa nara sumber, kesenian yang ada di kabupaten seluma, ada dua macam yaitu kesenian Bedindang dan kesenian tari tradisional Tari Andun (tari adat). Kedua kesenian ini merupakan kesenian tradisional yang dimiliki oleh masyarakat suku Serawai pada umumnya dan Kabupaten Seluma khususnya.

Kesenian Bedindang ini sudah berlangsung sejak lama dan menjadi tradisi bagi masyarakat setempat setiap kali mengadakan kegiatan adat. Kesenian Bedindang ini merupakan serangkaikan kegiatan dendang dan tari tarian yang berbeda penampilannya

Anggota kelompok kesenian Bedindang terdiri dari laki-laki dewasa atau yang sudah berkeluarga, mereka bisa berperan sebagai yang menyampaikan dendang penari dan pemain musik. Alat musik yang digunakan adalah rebana (gendang) dan biola. Acara ini berlangsung di Pengujung (tarup) dari malam hingga pagi dini hari (pukul 20.00 s.d. 04.00 wib)

Sedangkan Tari Andun merupakan bagian dari upacara perkawinan di suku Serawai yaitu pada acara Bimbang Adat atau Bimbang Ulu Makan Sepagi. Tari Anduna ini ditarikan oleh bujang dan gadis secara berpasangan, dengan satu syarat pasangan tersebut tidak mempunyai hubungan tali persaudaraan atau satu dusun (sekampung), selain bujang gadis Tari Andun juga dapat ditarikan oleh orang yang sudah berkeluarga dengan cara tidak berpasangan, pada saat beberapa orang perempuan yang sudah berkeluarga diperbolehkan untuk turut menari, begitu juga waktu mengiringi penganten laki-laki, maka diperbolehkan juga beberapa orang laki-laki yang sudah berkeluarga untuk ikut menari. Tari ini disebut tari kebanyakan, kalu hanya ditarikan bujang dan gadis maka tari terse3but dinamakan tari lelawanan.

Musik pengiring Tari Andun diiringi oleh alat musik rebana dan kelintang masing-masing satu buah. Acara ini dilaksanakan di halaman terbuka.

Kedua jenis kesenian yang dijelaskan di atas, merupakan kesenian tradisional yang di miliki oleh masyarakat suku Serawai Kabupaten Seluma.

DAFTAR BACAAN

Proyek Penelitian Daerah. 1978. Adat Istiadat Daerah Bengkulu . Bengkulu. Depdikbud.

Proyek Penelitian Daerah. 1988. Adat dan Upacara Perkawinan Daerah Bengkulu.Bengkulu. Depdikbud.

Sumarni, Titi. 2000. Struktur Penyajian Tari Pinggan Dalam Kesenian Bedindang Pada Masyarakat Suku Serawai Kecamatan Seluma Kabupaten Bengkulu Selatan. Padang. Universitas Negeri Padang.

Kebudayaan dan Pariwisata. 2004. Profil Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Seluma. Seluma. Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan.

http://titisumarni.wordpress.com/2010/03/22/mata-pelajaran-mulok-budaya-tana-serawai-kelas-xii-sma-n-1-seluma/

Thanks you…!

Oleh: zendrohareflen | Agustus 11, 2013

MACAM-MACAM PENDEKATAN, METODE, DAN MODEL PEMBELAJARAN IPA

PENDEKATAN, METODE, DAN MODEL PEMBELAJARAN  IPA

 

PENDEKATAN

Beberapa pendekatan yang dianjurkan untuk digunakan dalam pembelajaran IPA diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Pendekatan Inkuiri

Pembelajaran IPA berbasis inkuiri dideskripsikan dengan mengajak siswa dalam kegiatan yang akan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA sebagaimana para saintis mempelajari dunia alamiah.
Trowbridge, et al. (1973) mengajukan tiga tahap pembelajaran berbasis inkuiri. Tahap pertama adalah belajar diskoveri, yaitu guru menyusun masalah dan proses tetapi memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi hasil alterna-tif. Tahap kedua inkuiri terbimbing (guided inquiry), yaitu guru me-ngajukan masalah dan siswa menentukan penyelesaian dan prosesnya. Tahap ketiga, adalah inkuiri terbuka (open inquiry), yaitu guru hanya memberikan konteks masalah sedangkan siswa mengindentifikasi dan memecahkannya.

Menurut NRC (1996) pembelajaran berbasis inkuiri meliputi kegiatan observasi, mengajukan pertanyaan, memeriksa buku-buku dan sumber-sumber lain untuk melihat informasi yang ada, merencanakan penyelidikan, me-rangkum apa yang sudah diketahui dalam bukti eksperimen, menggunakan alat untuk mengumpulkan, menganalisis dan interpretasi data, mengajukan jawaban, penjelasan, prediksi, serta mengkomunikasikan hasil. Dari pandangan pedagogi, pengajaran IPA berorientasi inkuiri lebih mencerminkan model belajar konstruktivis. Belajar adalah hasil perubahan mental yang terus mene-rus sebagaimana kita membuat makna dari pengalaman kita.

Menurut NSTA & AETS (1998) jantungnya inkuiri adalah kemampuan mengajukan pertanyaan dan mengidentifikasi penyelesaian masalah. Karena itu dalam pembelajaran seharusnya guru lebih banyak mengajukan pertanya-an open ended dan lebih banyak merangsang diskusi antar siswa. Keterampilan bertanya dan mendengarkan secara efektif penting untuk keberhasilan mengajar.

Selain itu inkuiri memerlukan keterampilan dalam menganalisis data dan menilai hasil untuk mendapatkan kesimpulan yang valid dan masuk akal. Siswa IPA seharusnya diberi kesempatan untuk menganalisis data selama pembekalannya. Mereka seharusnya memperoleh tingkat kecakapan yang memadai dalam mengumpulkan dan menganalisis data dalam berbagai format (terbuka dan tertutup) dan dapat menggunakan kriteria ilmiah untuk membedakan ke-simpulan yang valid dan tidak valid.

Dalam konteks inkuiri, assesmen yang dilakukan adalah berbasis kelas dengan harapan dapat mengambil pandangan yang luas dari pengalaman belajar siswa. Assesmen dalam pembelajaran berbasis inkuiri berbeda dari as-sesmen tradisional (NRC, 2000). Untuk memahami kemampuan siswa dalam berinkuiri dan memahami prosesnya dapat dilakukan baik berdasarkan pada analisis kinerja di dalam kelas maupun pada hasil kerja mereka. Kemampuan siswa yang seharusnya dinilai adalah kemampuan dalam mengajukan perta-nyaan yang dapat diteliti, merencanakan investigasi, melaksanakan rencana penelitiannya, mengembangkan penjelasan yang mungkin, menggunakan data sebagai bukti untuk menjelaskan atau untuk menolak penjelasan, dan laporan penelitiannya (NRC, 2000).

Pada saat siswa melakukan kegiatan inkuiri guru melakukan observasi untuk setiap kinerja siswa, seperti presentasi siswa di kelas, interaksi dengan teman, penggunaan komputer, penggunaan alat-alat laboratorium. Guru juga mempunyai hasil kerja siswa secara individual meliputi draft pertanyaan penelitian, kritik dari siswa-siswa lain, dan jurnal siswa. Observasi kinerja siswa dan hasilnya adalah sumber data yang kaya untuk guru membuat inferensi tentang setiap pemahaman siswa tentang inkuiri ilmiahnya (NRC, 1996).
2. Pendekatan Salingtemas

Untuk mewujudkan sekolah sebagai bagian dari masyarakat dan lingkungan, pembelajaran IPA dikembangkan dengan pendekatan sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat (salingtemas). Dalam proses pembelajarannya, IPA tidak hanya mempelajari konsep-konsep tetapi juga diperkenalkan pada aspek teknologi dan bagaimana teknologi itu berperan di masyarakat serta bagaimana akibatnya pada lingkungan.

Pembelajaran sains dengan pendekatan yang mencakup aspek teknologi dan masyarakat mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara konvensional. Perbedaan tersebut meliputi: kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Dengan mengkaitkan serta mengaplikasikan bahan pelajaran sains ke teknologi dan masyara-kat, diharapkan siswa dapat menghubungkan materi yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari, serta perkembangan teknologi dan relevansinya. De-ngan pengkaitan dan pengaplikasian tersebut kreativitas siswa untuk lebih banyak bertanya dan mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan efek dari hasil observasi makin meningkat. Selain itu sikap siswa dalam bentuk kesadaran akan pentingnya mempelajari sains untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi melalui proses sains yang benar juga meningkat (Poedjiadi, 2000).
3. Pendekatan Pemecahan Masalah

Menurut The National Science Teachers Association (NSTA) tahun 1985, pemecahan masalah merupakan kemampuan yang sangat penting yang harus dikembangkan dalam pembelajaran sains. Pemecahan masalah adalah hasil aplikasi pengetahuan dan prosedur kepada suatu situasi masalah. Ada empat tingkatan dalam pemecahan masalah, yaitu: (1) definisi masalah, (2) seleksi informasi yang tepat, (3) penggabungan bagian-bagian informasi yang terpisah-pisah, dan (4) menilai pemecahan masalah.

Untuk memecahkan suatu masalah pada dasarnya diperlukan pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural dan pengetahuan struktural (Gagne, 1977). Pengetahuan deklaratif adalah pengetahuan yang dapat dikomunikasikan, misalnya fakta, konsep, aturan, dan prinsip. Pengetahuan prosedural menggambarkan tahap penampilan seseorang dalam menyelesaikan tugas tertentu. Pengetahuan struktural merupakan interaksi antara pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural dalam situasi memecahkan masalah.

Salah satu cara menilai pemecahan masalah dalam pendidikan sains dilakukan dengan menggunakan analisis tugas prosedural (Barba & Rubba, 1992). Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa tahapan pemecahan masalah identik dengan tahapan memperoleh pengetahuan yang digunakan oleh para perencana sistem pengajaran. Analisis tugas prosedural (procedural task analysis atau task analysis atau task hierarchi analysis), digunakan untuk memecahkan tugas menjadi beberapa komponen, mengorganisasikan hubungan antara masing-masing tugas dan untuk menghasilkan penyelesaian tugas dengan tepat.

Cara penilaian penyelesaian masalah dalam pembelajaran dengan analisis tugas adalah: (1) dibuat prosedural tertulis, untuk menentukan pengetahuan deklaratif atau pengetahuan prosedural yang digunakan subyek dalam me-mecahkan masalah; (2) dibuat rekaman dengan audio/videotape saat subJek memecahkan masalah; (3) dibuat catatan observasi/interview, transkrip dan dicatat variabel-variabel saat pemecahan masalah dilakukan, berdasarkan tugas yang menjadi acuan; dan (4) dibuat analisisis akhir.
4. Pendekatan Keterampilan Proses Sains (KPS)

Pendekatan KPS merupakan pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada proses IPA, berupa keterampilan-keterampilan yang dimiliki para ilmuwan IPA untuk menghasilkan produk IPA yang satu sama lain sebenarnya tak dapat dipisahkan. Keterampilan-keterampilan yang dimaksud dijelaskan berikut ini (Rustaman, 2003).
a. Mengamati

Untuk dapat mencapai keterampilan mengamati siswa harus mengguna-kan sebanyak mungkin inderanya, yaitu indera penglihat, pembau, pen-dengar, pengecap dan peraba. Dengan demikian ia dapat mengumpulkan dan menggunakan fakta-fakta yang relevan dan memadai.

b. Menafsirkan pengamatan (interpretasi)

Untuk dapat menafsirkan pengamatan, siswa harus dapat mencatat setiap pengamatan, lalu menghubung-hubungkan pengamatannya sehingga ditemukan pola atau keteraturan dari suatu seri pengamatan.

c. Mengelompokkan (klasifikasi)

Dalam proses pengelompokan tercakup beberapa kegiatan seperti mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, mencari kesamaan, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.

d. Meramalkan (prediksi)

Keterampilan prediksi mencakup keterampilan mengajukan perkiraan tentang sesuatu yang belum terjadi atau belum diamati berdasarkan suatu kecenderungan atau pola yang sudah ada

e. Berkomunikasi

Untuk mencapai keterampilan berkomunikasi, siswa harus dapat berdiskusi dalam kelompok tertentu serta menyusun dan menyampaikan laporan tentang kegiatan yang dilakukannya secara sistematis dan jelas. Siswa juga harus dapat menggambarkan data yang diperolehnya dalam bentuk grafik, tabel atau diagram.

f. Berhipotesis

Berhipotesis dapat berupa pernyataan hubungan antar variabel atau mengajukan perkiraan penyebab terjadinya sesuatu. Dengan berhipotesis terungkap cara melakukan pemecahan masalah, karena dalam rumusan hipotesis biasanya terkandung cara untuk mengujinya.

g. Merencanakan percobaan atau penelitian

Agar siswa dapat merencanakan percobaan, ia harus dapat menentukan alat dan bahan yang akan digunakan. Selanjutnya siswa harus dapat me-nentukan variabel yang dibuat tetap dan variabel yang berubah, menentukan apa yang dapat diamati, diukur atau ditulis, serta menentukan cara dan langkah-langkah kerja. Selain itu siswa juga harus dapat menentukan cara mengolah data sebagai bahan untuk menarik kesimpulan.

h. Menerapkan konsep atau prinsip

Dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki, siswa seharusnya dapat menerapkan konsep tersebut pada peristiwa atau pengalaman baru yang terkait dengan cara menjelaskan apa yang terjadi.

i. Mengajukan pertanyaan

Pertanyaan yang diajukan dalam mengembangkan keterampilan ini dapat meminta penjelasan tentang apa, mengapa, bagaimana atau menanyakan latar belakang hipotesis. Pertanyaan tentang latar belakang hipotesis menunjukkan bahwa siswa memiliki gagasan atau perkiraan untuk menguji atau memeriksanya. Dengan mengajukan pertanyaan diharapkan siswa tidak hanya sekedar bertanya tetapi melibatkan proses berpikir.
5. Pendekatan Terpadu (Integrated Approach)

Pendekatan ini intinya adalah memadukan dua unsur pembelajaran atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran dengan prinsip keterpaduan tertentu. Unsur pembelajaran yang dapat dipadukan dapat berupa konsep dan pro-ses, konsep dari satu mata pelajaran dengan konsep mata pelajaran lain, atau suatu metode dengan metode lain. Dengan prinsip keterpaduan antar unsur pembelajaran diharapkan terjadi peningkatan pemahaman ilmu yang lebih bermakna serta peningkatan wawasan dalam memandang suatu permasalahan.

Prinsip keterpaduan dapat diciptakan melalui jembatan berupa tema sentral sebagai fokus yang akan ditinjau dari beberapa konsep dalam satu atau beberapa bidang ilmu. Selain itu dapat pula melalui jembatan berupa target perilaku atau keterampilan tertentu yang dibutuhkan bukan hanya oleh satu disiplin ilmu saja.

Keragaman unsur yang dilibatkan dalam pembelajaran dapat memperkaya pengalaman belajar siswa, kegiatan belajar menjadi lebih dinamis dan menarik serta dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain itu apabila pendekatan terpadu ini dilakukan secara sistematis dapat mengefisienkan penggunaan waktu

Older Posts »

Kategori